1 Syawal 1432 H
Setiap Ramadhan usai, ada hal yang tak pernah bisa aku jelaskan dengan kata-kata, kesedihan dan entah apa, yang rasanya mirip seperti kehilangan. Momen -momen syahdu yang hanya bisa dirasakan pada saat bulan puasa yang penuh berkah itu. Kehangatan yang mengalir di dada setiap kali aku mendengar adzan Maghrib berkumandang melalui tv maupun Mesjid terdekat, atau ketika aku bersimpuh memohon doa di paginya hari, dikala yang lain mungkin masih tertidur lelap, tapi anehnya khusus di bulan Ramadhan jam 2 dini hari tetap terasa gempita.
Banyaak sekali yang belum sempat aku lakukan, atau memang sengaja tidak aku lakukan karena pada akhirnya suara sang syaithan mampu mengalahkan semangatku. Betapa kerap aku sesali, namun tetap berulang ku lakukan. Ah, dasar memang aku hanya si manusia yang penuh cela.. Tapi alhamdulillah, karena kembali di tahun ini aku mampu menggenapkan 30 hari ibadah puasa ku bersama dengan keluarga & dia yang Insha Allah terus bersama-bersama, sahabat-sahabat dalam hidup, teman-temana lama, dan tak lupa juga para atasan + kolega yang membuat hidup selalu berwarna dan ceria.
Banyak yang berbeda di semakin tuanya aku merayakan Hari Kemenangan. Tradisi keluarga yang tak dapat lagi dilakukan dengan sempurna seiring dengan bertambanhnya usia.
Dulu, ketika aku dan para sepupu dari garis keturunan keluarga Ayah, M. Ali Baswan, masih muda (baca : belum pada nikah), sering berkumpul dan bertukar cerita. Ruang tamu rumah Kakek yang memang tidak terlalu besar membuat kami harus berebut menentukan posisi, atau akan berakhir duduk bersila di lantai. Patio depan rumah Kakek selalu dirajai oleh Ayah dan para Oom dengan atmosphere semburan asap rokok, Mama dan para Tante tentu saja menguasai ruang makan, dan para sepupu kecil 1 generasi akan berkumpul di kamar sambil main game di komputer atau sony playstation.
Tapi tidak dengan lebaran di tahun ini.. sepupu-sepupu yang sudah memasuki gerbang pernikahan tersita waktunya oleh kunjungan ke rumah mertua, atau bahkan ikut pulang ke kampung halaman sang Istri, sehingga aku hanya mampu bertemu dengan 2/3 dari keseluruhan anggota kelurga besar ini.
Tapi tuhan selalu menggantikan apa yang Dia ambil darimu kan? Dan seperti janji-Nya, alhamdulillah keluarga Mama yang justru dulu ketika masih muda jarang berkumpul, sekarang mampu berkumpul hampir lengkap. Pertemuan keluarga besar Wiradidjaja-Padmadiningrat yang hanya terjadi 1 tahun sekali ini mampu mengingatkanku bahwa ternyata aku kaya, kaya akan saudara. Kemudian betapa aku tersadar akan usia, karena tiba-tiba ponakanku yang sudah memasuki kuliah tingkat III memanggilku Tante, atau bahkan ada dari mereka yang sudah menikah dan memiliki anak. Damn, I’m old.
Tapi Lebaran tetaplah Lebaran, Hari Kemenangan, Idul Fitri yang selalu berarti Ketupat, Sayur Santan, Opor Ayam, Semur Daging, Rendang, Balado Udang + Kentang dan Kue Kue Kering. Walau setelah usia menginjak 23, Lebaran tak agi merupakan baju baru maupun THR, namun akan selalu aku sambut dengan penuh suka cita.
Selamat Lebaran Idul Fitri 1432 H untuk seluruh umat muslim di dunia, Insya Allah kita masih diberikan kesempatan bertemu dengan Ramadhan berikutnya.
Minal Aidin Wal Faidzin.
Mohon Maaf Lahir & Bathin.
Keluarga Besar R. Ahmad Wiradidjaja & R. A. Amelia Padmadiningrat
About this entry
You’re currently reading “1 Syawal 1432 H,” an entry on World Always Decide
- Published:
- September 6, 2011 / 04:17
- Category:
- Social Issues
- Tags:

Panggil aku si kenyi yang sentimentil, sering dan gampang sekali menangis buat hal-hal paling ga penting sedunia. Terlihat kuat dan tegar, tapi sebetulnya fragile dan breakable. Ga suka asap rokok + baunya, ga suka berdulalip ria dengan musik yang du’ tang dumpret lalalala. Anak rumahan yang seneeeng banget main di mall, nonton di bioskop atapun sekedar dari dvd bajakan. Penggemar buku-buku nyeleneh macam Ayu Utami, tapi mampu juga jatuh cinta sama Icha Rahmanti dan Ika Natassa sambil berpetualang bareng Harry Potter atau Edward Cullen. Pencinta gila puisi Sapardi Djoko Damono dan catatan pinggir Goenawan Mohammad. Pemakan cokelat yang cuma berwarna cokelat. Penyanyang semua, keluarga dan sahabat-sahabat dalam hidup. Pemimpi yang sama sekali nggak ambisius. Tukan ngemil. ASTAGOOO!
No comments yet
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]